BUMI Bisa Naik, ‘Trading Buy’!
Saham BUMI, Senin (14/6) diprediksi naik seiring peluang positifnya sentimen market. BUMI pun bisa melewati level 1.900 dan berikutnya Rp2.000. Trading buy BUMI!
Pengamat pasar modal, N Jaganathan mengatakan, potensi penguatan saham PT Bumi Resources (BUMI) hari ini, salah satunya ditopang peluang positifnya sentimen market. Persoalan krisis utang di Eropa tampaknya sudah memiliki penyelesaian. Terefleksi pada rebound-nya mata uang euro terhadap dolar AS. "BUMI akan mengarah ke level resistance pertama di level Rp1.850-1.900 dan Rp2.000 sebagai resistance berikutnya. Sedangkan level support berada di angka Rp1.700," katanya di Jakarta, Jumat (11/6).
Akhir pekan lalu, saham BUMI ditutup melemah Rp20 (1,09%) menjadi Rp1.800 dibandingkan sebelumnya di level Rp1.820. Harga tertingginya mencapai Rp1.850 dan terendah Rp1.800. Volume transaksi mencapai 110,8 juta unit saham senilai Rp202,3 miliar dan frekuensi 2.765 kali.
Jaganathan menambahkan, penguatan euro mengindikasikan, kemelut utang di Eropa sudah memiliki titik terang meskipun belum bisa dikatakan sudah selesai. "Tapi indeks akan menguat kembali meskipun tidak akan secepat sebelumnya. Karena itu, BUMI pun akan terkerek naik."Saat ini BUMI, masih jatuh di bawah level Rp1.900. Padahal sebelumnya, pada saat indeks mengarah ke level 2.900, saham BUMI berada di level Rp2.850. "Karena itu, saat ini sangat wajar jika indeks positif, BUMI juga akan terkerek naik ke arah Rp2.000," paparnya.
Lebih jauh Jaganathan mengatakan, krisis AS diselesaikan dengan penurunan suku bunga, sedangkan Eropa dengan pengamanan obligasi negaranya. Artinya, Uni Eropa sekarang memiliki secure guarantee dalam bentuk penjadwalan ulang utang-utang negara itu yang jatuh tempo.
Jaminan untuk itu, ECB (European Central Bank) berkomitmen membeli obligasi pemerintah zona euro. Ia mencontohkan, utang yang jatuh tempo di 2010 diperpanjang menjadi 2020. Karena itu, sentimen regional berpeluang positif sehingga indeks pun terimbas positif juga. "Sebab, obligasi pemerintah di Eropa yang menjadi sumber masalah, saat ini dinilai pasar aman," ucapnya.
Potensi penguatan BUMI juga dapat terpengaruh penguatan harga minyak mentah dunia ke level US$75 per barel dan harga batubara ke level US$98 per metrik ton berdasarkan harga di Newcastle . "Kenaikan harga komoditas ini terkait kebocoran minyak British Petroleum di teluk Meksiko," paparnya.
Namun, BUMI tidak bisa menguat lebih jauh akibat belum adanya berita dari aksi korporasinya. Hingga saat ini, belum ada berita yang terfokus ke BUMI. Kecuali dari sentimen grupnya terkait penjajakan akuisisi PT Telkom (TLKM) atas PT Bakrie Telecom (BTEL).
Namun, penjajakan akuisisi ini, menurutnya hanya berpengaruh positif bagi saham BTEL dan TLKM. Pasar saat ini mengacu pada grafik teknikalnya untuk bermain di saham BUMI. "Penjajakan akuisisi Telkom atas Esia tidak ada hubungannya dengan BUMI," timpalnya.










