BUMI Tertekan, Beli Jangka Panjang
Pengamat pasar modal, Irwan Ibrahim mengatakan potensi kembali tertekannya saham BUMI hari ini salah satunya karena faltor koreksi harga batubara internasional ke level US$60-65 per metrik ton.
Hal ini menyusul pelemahan harga minyak mentah dunia ke level US$71 per barel
. “Karena itu, BUMI akan mengarah ke level support Rp2.300-2.200 dan Rp2.500 sebagai level resistance-nya,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Minggu (7/2).
Pada perdagangan Jumat (5/2), saham BUMI ditutup melemah Rp125 (4,85%) menjadi Rp2.450 dibandingkan sebelumnya di level Rp2.575. Harga tertingginya mencapai Rp2.475 dan terendahnya Rp2.400. Volume transaksi mencapai 236,1 juta unit saham senilai Rp575,8 triliun dan frekuensi 7.853 kali.
Di sisi lain, lanjut Irwan sentimen market yang negatif akan memperparah pelemahan BUMI. Sebab, pekan lalu rilis data ekonomi yang buruk di AS yaitu pengangguran yang masih tinggi di level 10%. Padahal, pemerintah Obama juga sebelumnya sudah memperketat gerak perbankan dengan membatasi pendanaan pada hedge fund dan private equity fund.
Akibatnya, indeks Dow Jones sempat jatuh dan tembus ke level 9.800. Karena itu, sentimen dari regional masih negatif sehingga akan memicu koreksi di bursa-bursa regional termasuk pasar domestik.
Hal ini masih terpengaruh negatif juga oleh kebijakan pengetatan likuiditas di China yang menaikan capital reserve ratio atau Giro Wajib Minimum (GWM) menjadi 16% untuk perbankan. “Karena itu, pasar masih bersikap wait and see atas perkembangan market berikutnya,” timpalnya.
Akibatnya, kapitalisasi market pun saat ini sangat tipis. Bahkan bukan hanya di pasar modal, di pasar uang dan komoditas pun nilai transaksi relatif sepi. “Dalam kondisi ini, pelaku pasar ketakutan sehingga melakukan aksi jual karena takut jatuh lebih dalam,” tukasnya.
Karena itu, saham sejuta umat ini pun akan tertekan. Namun, menurut Irwan justru dalam kondisi inilah saatnya bagi investor untuk melakukan aksi beli atas BUMI. Sebab, setelah menyentuh level Rp2.200, secara teknikal saham ini akan kembali menguat.
Penguatan BUMI selanjutnya dipicu oleh ekspektasi membaiknya laporan keuangan perseroan kuartal keempat 2009 pada pertengahan Februari ini atau sekitar pekan depan, dan laporan keuangan untuk kuartal pertama di 2010 ini.
Sementara itu, dari sisi korporasi menurutnya belum ada hal-hal yang berpengaruh pada pergerakannya. Sebab, belum ada aksi korporasi baru. “Isunya sih rights issue, tapi sampai saat ini belum ada kepastian. Itu juga akan menyedot likuditas di market,” ucapnya.
Di atas semua itu, Irwan merekomendasikan beli untuk jangka panjang. Paling tidak, hingga akhir kuartal pertama tahun ini ditargetkan Rp3.000 untuk BUMI. “Pasar saat ini harus menghindari bermain margin atau spekulatif. Lebih baik beli karena ada potensi menguat kembali,” pungkasnya.
| <Bergabunglah dengan Broker Saham eTrading Securities, The Most Powerfull Online Stocks Trading Gallery> |







