Semoga Tak Ada Kabar Buruk di Pasar Saham
Keberhasilan indeks kembali ke level 2.800, dianggap sebagai awal kebangkitan perdagangan saham. Kecuali, kalau pemulihan ekonomi di Eropa dan AS meniupkan sentimen negatif.
Tanda-tanda positif yang bakal menyemarakkan bursa, muncul dari pasar efek AS. Pada dua hari terakhir pekan kemarin, indeks Dow Jones telah kembali bertahta di atas level psikologinya, 10.000. Tepatnya, pada Sabtu dini hari waktu Indonesia Barat, Dow ditutup pada level 10.211.
Selain itu, sinyal yang menggembirakan juga tampak dari kembalinya investor asing ke negeri ini. Dibandingkan dana yang keluar Mei lalu (mencapai Rp1,4 triliun), yang kembali memang belum sampai setengahnya. Selama 10 hari pertama di Juni ini, dana yang masuk baru sekitar Rp 400 miliar. Tapi, itu merupakan pertanda bahwa investor mulai percaya diri kembali menanamkan dananya di negara-negara berkembang.
Itu sebabnya, sejumlah pelaku pasar yang diwawancarai optimistis, di pekan ini indeks akan meneruskan penguatannya. Dengan catatan, ya itu tadi. "Kalau tak ada berita buruk yang menyangkut pemulihan ekonomi Eropa dan AS," kata seorang kepala riset.
Beranjak dari kenyataan tersebut, sang kepala riset memperkirakan, IHSG di minggu ini akan bergerak di rentang 2.740-2.850. Hanya saja, untuk menghindari kemungkinan terjadinya kejutan yang merugikan, investor disarankan bermain harian.
Saham yang direkomendasikan belum berubah banyak, masih efek-efek yang berkaitan dengan naiknya harga komoditas. Seperti PT Timah (TINS), PT Aneka Tambang (ANTM) dan PT Bumi Resources (BUMI). "Layak dibeli karena dengan harga yang terbentuk saat ini, saham-saham itu memiliki potensi penguatan yang cukup lebar," kata seorang analis.
Saham alat berat seperti PT United Tractors (UNTR) dan semen PT Semen Gresik (SMGR) juga mendapat rekomendasi serupa. Dalam jangka pendek, saham ini diprediksi bisa menetaskan gain antara 5% hingga 7%.










