Bursa Tipis Mudah Ditiup Angin
Kendati tertatih-tatih, dalam sepekan lalu Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menguat tipis, 18 poin. Tapi sungguh, ini bukan kabar baik.
Soalnya di tengah perhelatan Piala Dunia di Afrika Selatan, perdagangan saham di bursa berlangsung tipis. Inilah yang membuat indeks keropos dan mudah goyah. Memang, sejumlah analis memprediksi, Senin (28/6) ada kemungkinan indeks masih akan menguat. Tapi setelah itu, jangan terlalu berharap.
Ada sejumlah faktor yang membuat transaksi berlangsung loyo. Selain menyangkut urusan bola, di dalam negeri juga nyaris tak ada sentimen positif yang bisa diandalkan. Betul, cerahnya prosepek pertumbuhan ekonomi negeri ini, ditambah dengan stabilnya politik dan tingkat inflasi, akan mendorong dana asing masih akan mengalir ke Indonesia .
Apalagi ditambah tingkat bunga menggiurkan, jauh lebih tinggi ketimbang yang dipasang perbankan Eropa dan AS. Dana investor manca negara, seperti diramalkan Pjs Gubernur BI Darmin Nasuition, bakal terus masuk hingga akhir tahun. Tapi sayang, kelihatannya, dana itu lebih banyak mengalir ke obligasi dan surat-surat utang negara. Dengan kata lain, hanya sedikit saja yang mengalir ke Bursa Efek Indonesia .
Kondisi inilah yang membuat para pelaku pasar tidak yakin transaksi akan berjalan marak. Seorang analis hanya berani memperkirakan, kalaupun menguat, indeks tak akan melebihi level 2.970. "Tapi kalau ada berita buruk dari Eropa atau Amerika, arus pembalikan bisa saja menembus kembali ke bawah level 2.900," katanya.
Kurangnya sentimen positif yang menggerakkan plus adanya kemungkinan muncul angin negatif, para analis menyarankan agar inverstor berhati-hati dalam melakukan koleksi. Pembelian, sebaiknya dikonsentrasikan pada saham unggulan yang harganya telah mengalami koreksi secara signifikan. "Pakai strategi bermain cepat walaupun untungnya kecil," saran sang analis.
Sejumlah saham yangpaling mendapat rekomendasi bagi perdagangan pekan ini antara lain, PT Adaro Energi (ADRO), PT Gas Negara (PGAS), PT Energi Mega Persada (ENRG) dan PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI). Dari sana, bolehlah investor berharap gain 3-5%. Lumayan bukan?










