'Blue Chips' Masih Bisa Diandalkan
Para analis percaya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang naik dengan kisaran 2.910-3.030. Saham blue chips masih bisa jadi pilihan. Namun investor tetap harus waspada mencermati perkembangan pasar.
Namun, kenaikannya masih terbatas sebab belum ada tanda-tanda yang meyakini IHSG untuk bergerak maju kendati pertemuan G20 mengeluarkan solusi pemulihan ekonomi. Apalagi Amerika Serikat akan mengeluarkan tiga data pekan ini seperti masalah tenaga kerja, aktivitas manufaktur serta inflasi "Secara jangka pendek ada indikasi untuk menguat terbatas sehingga investor perlu mencermatinya," demikian ungkap pengamat pasar modal, Felix Sindhunata dalam perbincangannya kemarin.
Walaupun AS akan merilis data-data perekonomiannya, ia meyakini kondisi domestik jauh lebih berpengaruh untuk ketahanan indeks. Contohnya, penguatan yang terjadi pada penutupan IHSG Jumat (25/6) dimana saham-saham perbankan membawa ke zona positif 1,13%.
Ia mengakui, nilai transaksi relatif kecil lantaran seperti pada musim panas tahun sebelumnya, sebagian investor memilik untuk istirahat. "Mereka memilih untuk liburan ditambah liburan sekolah dan Piala Dunia," telisiknya. Dalam situasi yang serba di luar dugaan, ia merekomendasikan memilih saham-saham blue chips seperti perbankan karena memiliki resistensi yang baik walaupun memiliki sentimen inflasi.
Pilihan lainnya jatuh pada sektor konsumen seperti PT Unilever Indonesia (UNVR), PT Indofood Sukses Makmur (INDF) serta PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM). "Kinerja kedua sektor ini menunjukkan penguatannya dibandingkan sektor batubara yang harus ekspor dan sensitif dengan harga," pungkasnya.
Hal yang sama terlontar dari Kepala Riset PT Mega Capital Indonesia, Danny Eugene. Ia meyakini IHSG masih memiliki kekuatan untuk menembus level 3.000, namun dibutuhkan dorongan yang kuat dari sektor pertambangan dan konsumer. " Ada peluang untuk naik namun sepertinya terbatas merespon hasil pertemuan G20," telisiknya










